Sabtu, 22 September 2012

Makalah tentang Geosentris



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebenaran yang ditemukan oleh manusia pada suatu saat  mungkin  dangkal atau diubah dengan kebenaran yang baru. Teori yang tidak cocok lagi dengan hasil-hasil pengamatan baru, diganti dengan teori lebih memenuhi keperluan para ilmuwan, teori geosentris dalam tata surya pada abad pertengahan di ganti oleh teori heliosentris. Demikian juga dalam kimia teori flogiston yang memberikan keterangan yang berbeda dengan teori oksidasi jatuh dan ditinggalkan oleh orang yang berkecimpung di dalam ilmu kimia. Untuk sinar dalam fisika  toeri partikel dan teori gelombang masih dapat berjalan bersama. Teori generation spontance untuk makhluk hidup sekarang ini dalam biologi diganti oleh More vivo ex ovo, omne ovo ex vivo. Teori Darwin tentang asal mula manusia dari kera yang dibantah Al-Qur’an bahwasannya asal mula manusia itu dari tanah.[1]
Dengan demikian, manusia pada dasarnya adalah makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan bertanya-tanya untuk mendapatkan jawaban. Namun setiap jawaban-jawaban tersebut juga selalu memuaskan manusia. Ia harus mengujinya dengan metode tertentu untuk mengukur apakah yang dimaksud disini bukanlah kebenaran  yang bersifat semu, tetapi kebenaran yang bersifat ilmiah yaitu kebenaran yang bisa diukur dengan cara-cara ilmiah.
Perkembangan ini pengetahuan yang semakin pesat sekarang ini, tidaklah menjadikan manusia berhenti untuk mencari kebenaran. Justru sebaliknya, semakin menggiatkan manusia untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang berlandaskan teori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menguji sesuatu teori baru atau menggugurkan teori sebelumnya. Sehingga manusia sekarang lebih giat lagi melakukan penelitian-penelitian yang bersifat ilmiah untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Karena itu bersifat  statis, tidak kaku, artinya ia tidak akan berhenti pada satu titik, tapi akan terus berlangsung seiring dengan waha manusia dalam memenuhi rasa keingintahuannya terhadap dunianya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka makalah  yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
  1. Apa yang di maksud dengan ilmu pengetahuan
  2. Apa yang dimaksud dengan realitivitas (nisbi) dan apakah nilai kebenaran dari ilmu pengetahuan bersifat mutlak
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Ilmu Pengetahuan
Sebelum kita memasuki pembahasan inti dari makalah ini, maka perlu kiranya kita mengetahui pengertian dari ilmu pengetahuan.
Dalam komperensi ilmu pengetahuan nasional (KIPNAS) ini LIPI yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 15-19 September 1981 di dasarkan agar dipergunakan terminologi ilmu untuk science dan pengetahuan untuk Knowledge adapun alasannya yaitu:[2]
  1. Ilmu (Spesies) adalah sebagian dari pengetahuan (Genus)
  2. Dengan demikian maka ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu ciri-ciri ilmiah atau ilmu adalah sinonim dengan pengetahuan ilmiah (Scientific knowledge)
  3. Dalam buku bahasa Indonesia berdasarkan hukum D (diterangkan) dan M (menerangkan) maka ilmu pengetahuan adalah ilmu (D) yang bersifat pengetahuan (M) dan penyatuan ini pada hakikatnya adalah salah sebab ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah
  4. Kata ganda dari dua kata benda yang termasuk kategori  yang sama biasanya menunjukkan dua objek yang berbeda seperti laki bini (laki dan bini) dan emas perak (emas dan perak) penafsiran yang sama, maka ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai ilmu dan pengetahuan.
Ternyata ada juga yang berpendapat bahwa:
  1. Ilmu termasuk genus dimana terdapat dapat banyak spesies seperti ilmu kebathinan, ilmu agama, ilmu filsafat, dan ilmu pengetahuan
  2. Terminologi ilmu pengetahuan sinomia dengan scientific knowledge
  3. Ilmu adalah sinomia dengan knowledge danpengetahuan tentang science dimana  berdasarkan hukum DM maka ilmu pengetahuan adalah ilmu (Knowledge) yang bersifat pengetahuan (scientific)[3]
Jika demikian, ilmu pengetahuan hanya merupakan istilah yang lazim dibahasakan orang-orang tetapi tidak mampu memberikan defenisi yang jelas, tetapi orang pasti sudah mengerti maksud ilmu pengetahuan bila mendengarnya
Di dalam makalah ini akan kami uraikan  beberapa defenisi istilah ilmu pengetahuan berdasarkan beberapa buku filsafat.
Kata “Ilmu” merupakan terjemahan dari kata (Science) yang secara etimologi berasal dari bahasa latin (scinre) artinya “to Know”. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.[4]
Menurut Prof. drs. Harsojo, guru besar Universitas Padjadjaran menyatakan bahwa ilmu itu adalah:
  1. Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan
  2. Suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, counia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu.
Sedangkan pengertian pengetahuan menurut Drs. Sidi Gazalba adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari pada kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.[5]
Pengertian Realitivitas dan Nilai Kebenaran Ilmu Pengetahuan
Menurut kamus bahasa Indonesia realitivitas adalah keadaan yang tidak menentu (ketidaktentuan) atau keadaan yang tidak mutlak.
Dari pengertian diatas kita dapat melihat bahwa lawan dari realitif adalah mutlak dan abadi. Sikap realitif merupakan suatu kepuasan dalam ilmu, karena ilmu hanya berhubungan dengan dunia fenomena yang penuh dengan perubahan, selalu mengalami perkembangan. Ilmu tidak mencoba mencari sesuatu yang mutlak, yang mutlak bukan lapangan ilmu. Itu dipelajari pada filsafat yang pada akhirnya akan bermuara kepada agama. Hal ini tidak berarti bahwa ilmu harus dipisahkan dari filsafat apalagi dari agama.[6]
Dalam ilmu tidak mengenal kemutlakan dalam arti apa yang dihasilkan ilmu sekarang, dapat digugurkan oleh hasil penemuan-penemuan barunya. Apalagi dalam ilmu-ilmu sosial sangat rawan kalau kita sampai kepada pengertian mutlak. Suatu hasil penelitian dapat diterapkan di Jawa Barat. Namun belum tentu dapat diterapkan di Sulawesi,  apalagi diluar Indonesia.
Para ilmuwan menyadari bahwa kebenaran yang ditemukan manusia tidak pernah merupakan kebenaran mutlak. Para ilmuwan sebagai pencari kebenaran tidak mengharapkan kebpastian terakhir. Perubahan merupakan sifat yang dominan dalam alam semesta ini. Setiap alam disusul dengan satu batas tembok masalah ketidaktahan baru. Bila tembok itu dapat diatasi maka para ilmuwan akan menemukan tembok ketidaktahuan yang baru, yang lebih tinggi lagi dan seterusnya.[7]
Dibawah ini terdapat beberapa ahli di dunia dalam hubungan existensi ilmu pengetahuan diantaranya:
Imanuel Kant (1724-1804)
Seseorang filsuf ulung bahasa Jerman menulis sebagai berikut: “Sihlechterings kann keine menschliche vermint (auch keine enliche, die der Qualitat nach der unsringen an liwachware, sie arber dem grade nach noch so sehr neberstiege) die Erzeugung auch nur enies graschens aus bloss mencahineschen ersachen zu verstehn hoffen”. (dengan bagaimanapun juga tiada akal manusia [jiga tiada akal yang terbatas, yang meniliki sifatnya sama dengan akal kita, tetapi menilik tingkatnya betapapun juga jauh melebihinya] dapat berharap akan memahami penghasilan rumput yang kecil sekalipun dengan sebab-sebab yang sifatnya mekanis belaka)
Dr. Mr. D.C. Mulder
Menuliskan dalam karyanya yang berjudul iman dan ilmu pengatahuan sebagai berikut: “Tiap-tiap ahli ilmu vak mengahadapi soal-soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai pengetahuan vak itu sendiri. Ada soal-soal pokok atau soal-soal dasar yang melalui kompetensi dari ilmu vak itu sendiri. Misalnya di manakah batas-batas lapangan yang saya selidiki ini? Di manakah tempatnya di dalam kenyataan seluruhnya ini? Metode yang saya pergunakan ini berlaku sampai dimanakah? Umpamanya soal yang sangat sulit sekali: Apakah kausalitas kealaman (natuur causalitiet) berlaku juga atas lapangan hayat, psikis, historis, yuridis, sosial? Dan tentu ada lain-lain lagi. Jelaslah untuk menjawab soal-soal yang semacam itu ilmu-ilmu vak membutuhkan suatu instansi yang  melebihi vak-vak masing-masing dan yang menghiraukan akan susunan alam semesta seluruhnya
…………….Adakah instansi yang sedemikian itu? Ada juga yaitu ilmu filsafat”
Dari pengungkapan para ahli tersebut di atas kita dapat menarik kesimpulan sebagi berikut:
  1. Tidak semua permasalahan yang dipersoalkan manusia dalam hidup dan kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan itu.
  2. Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positif dalam arti sampai saat sekarang ini dan juga bersifat relatif atau nisbi dalam arti tidaklah mutlak kebenarannya
  3. Batas dan realitivitas ilmu pengetahuan bermuara pada filsafat, dalam arti bahwa semua permasalahan yang berada di luar atau di atas jangkauan dari ilmu pengetahuan itu diserahkanlah kepada filsafat untuk menjawabnya.
Dengan kita memasuki lapangan  filsafat dengan mencoba merenungkan semua permasalahan manusia yang belum tuntas dijawab oleh ilmu pengatahuan itu.
Hasil perenugannya kita coba memaparkan dalam penguraian berikut ini:
Dr. frans Dahle mengemukakan sebagai berikut:
“Menurut Marxisme, agama akan lenyap, karena ilmu pengetahuan makin lama makin mampu mengartikan hidup dan membebaskan manusia dari penderitaan. Namun sesungguhnya ilmu tetap tak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari manusia, misalnya tentang kematian, sukses, gagalnya cinta, makna sengsara yang tak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan lebih dari pada itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta mutlak dan abadi”
Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis yang atheis bangsa Perancis pernah mengemukakan sebagai berikut:
“Apakah pengetahuan? Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu hal yang sudah selesai terpikirkan, sesuatu hal yang tidak pernah mutlak, sebab selalu akan disisihkan oleh hasil-hasil penelitian dan percobaan-percobaan baru yang dilakukan dengan metode-metode baru atau karena adanya perlengkapan yang lebih sempurna. Dan penemuan-penemuan baru ini akan disisihkan pula oleh ahli-ahli lainnya, kadang-kadang kembali mundur, tetapi seringnya lebih maju.
Begitulah selalu akan terjadi. Teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan-percobaan Michelson dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dan Newtron. Teori realtivitas Einstein terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan adalah ilmu itu sendiri, yakni pengetahuan yang diperoleh dari proses penyelidikan secara ilmiah dengan menggunakan metode-metode ilmuah. Seperti orang tahu main gotar, atau ia mengetahui nama teman-temannya, kedua contoh ini tidak membutuhkan metode ilmiah untuk bisa mengetahuinya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka perlu disimpulkan beberapa hal :
  1. Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mencoba menjawab segala permasalahan atau gejala-gejala alam dan lingkungan atau masyarakat dengan menggunakan metode-metode ilmiah
  2. Ilmu pengetahuan bersifat relatif, artinya ilmu pengetahuan itu tidak kaku sehingga ia akan terus berkembang seiring dengan kerja dan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan kebenaran dan pemanfaatan hidup yang lebih berarti. Juga teori-teori yang telah dibangun oleh para ilmuwan tidak akan bertahan sepanjang masa. ia akan dibantah oleh teori-teori baru yang lebih mendekati kepada kebenaran dan efesiensi kerja ilmiah.
Kritik dan Saran
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun makalah ini, masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu, penulis berharap agar pembaca memberi kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah-makalah yang akan datang
Demikianlah makalah ini, semoga bermanfaat untuk kita semuanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar